“…saya datang padanya dan akan
memperkerjakannya. Ia bilang pada saya, apakah harus ada semacam interview
kerja. Saya jawab, tidak usah. Karena saya percaya padanya, dan ia lebih pintar
dari saya. Saya rasa, itu cara terbaik memperkerjakan orang.”
Ini seperti contoh, suatu waktu pada
sebuah acara reuni, guru-guru yang bertemu dengan para muridnya dulu, begitu
terkejut. Murid-murid mereka tumbuh menjadi orang jauh lebih sukses dibanding
mereka. Murid-murid itu menjadi manajer, pemilik suatu perusahaan, eksekutif,
pelaku dunia digital dan lain-lain. Ini adalah suatu kenyataan dimana murid
bisa menjadi lebih cerdas daripada gurunya suatu hari.
Dan, yang jadi pertanyaan adalah,
mengapa bisa seperti itu? Tokoh kuncinya terletak pada seorang guru. Karakter
yang mampu mendidik muridnya untuk lebih dan lebih daripada mereka. Menjadi
pribadi yang mampu membuat orang lain lebih baik dari dirinya sendiri adalah
pribadi dengan kulitas yang baik.
Jadi menurut saya, pemimpin yang
baik adalah seperti itu, yang mampu membangkitkan Menularkan kemampuannya bagi
teman-teman pemimpinnya agar saling tumbuh dan menjadi lebih baik. Jadi,
memiliki kualitas kepemimpinan sepertihalnya seorang guru, adalah intinya.
Saya suka tentang konsep mindset
yang ada. Secara umum, mindset atau pola pikir seseorang terbagi menjadi
dua. Pertama, mereka yang berpikir jika intelektualitas adalah suatu hal yang
statis; jika kamu tak bisa melakukan suatu hal, berarti kamu memang tak mampu
untuk melakukan itu selamanya. Kedua, mereka yang percaya jika intelektualitas
adalah suatu hal yang bisa berkembang; jika kamu tak bisa melakukannya hari
ini, kamu bisa terus berusaha dan belajar, hingga pada hari esok atau lusa,
kamu berhasil melakukannya. Mindset kedua ini adalah mindset yang bagus,
menjadi pola pikir kunci untuk siapapun yang ingin terjun ke dalam suatu
perusahaan. Pada akhirnya, sebuah perusahaan bukan hanya tentang pemimpinnya,
CEO-nya, karyawannya, tapi semua yang terlibat di dalamnya.
Dan, baiklah pria ini bilang pada
saya, apa beda seorang dreamer dan visioner? Dreamer adalah seorang pengkhayal
yang bermimpi dengan mata tertutup, sedangkan visioner adalah pengkhayal yang
bermimpi dengan mata terbuka. Jadi, seorang visioner adalah orang yang ketika
berujar, bertindak dan berpikir selalu dalam jalur yang konsisten. Ini membuat
saya ingin bertanya pada orang-orang yang ada di ruangan ini, kamu ingin
menjadi apa? Dreamer ataukah Visioner?
“Saya Billy, pelaku bisnis furniture
dan industri, saya ingin bertanya mengenai industri startup dan e-commerce, apa
tantangan yang Anda hadapi dengan apa yang Anda punyai sekarang ini? Serta saya
juga ingin tahu, model revenue seperti apa yang Anda pakai?”
Terima kasih untuk pertanyaannya.
Saya ingin mulai menjawab dari pertanyaan terakhirnya. Sesungguhnya, saya tidak
peduli dengan revenue-nya. Hal yang saya pedulikan adalah pertumbuhan
perusahaan. Saya menganggap apa yang saya lakukan sebagai investasi masa depan.
Persaingan internet marketing di Indonesia sangatlah ketat, maka itu, saya
fokus untuk mempersiapkan tim yang solid. Karena jika berbicara tentang
internet marketing, itu berarti kompetisi global, kamu tidak bisa besaing hanya
dengan produk-produkmu. Karena persaingan yang terjadi ada pada setiap hal.
Kualitas produk yang dimiliki bisa saja semuanya sama, jadi yang harus
dibicarakan adalah seberapa besar kualitas sumber daya yang kamu punya.
Jika kamu bertanya apa yang saya
lakukan pada lima tahun terakhir, yang saya lakukan adalah membangun tim yang
baik. Cobalah kamu bertanya pada orang industri secara acak, bukan orang
pengguna internet, sampai tahun lalu, mereka tak mengenal apa itu Tokopedia,
karena saya memang tidak pernah benar-benar melakukan promosi yang
besar-besaran. Tapi, kita tidak menghasilkan uang setiap tahunnya. Saya dan
tim, kami ini memang tidak peduli dengan revenue, yang kami pikirkan adalah
memberikan pelayanan terbaik atas penjualan produk-produk, serta memperkerjakan
orang-orang yang terbaik. Itulah model revenue kami. Semoga dengan ini, saya
bisa menjawab pertanyaan Anda.
“Mungkin Anda bisa jelaskan lebih
jauh pada kita mengenai model revenue yang akan Anda pakai di masa depan?
Karena setidaknya kita perlu tahu cara bagaimana menghasilkan uang, serta
dimanakah posisi Anda saat ini dalam memandang model revenue? Apakah hanya
untuk bersenang-senang saja?”
Saya memandang tokopedia bukan
sebagai perusahaan e-commerce, melainkan salah satu perusahaan internet. Saya
tak pernah ingin membuat e-commerce, jadi tokopedia bukanlah e-commerce. Maka,
tak perlu ada yang harus dibayar. Sebagai suatu perusahaan internet yang
bersifat open marketplace, tokopedia berperan dalam membantu orang-orang
Indonesia mengenali bisnis online secara mandiri.
Sebab saya percaya, cara
terbaik untuk mendapatkan keuntungan adalah dengan membantu orang-orang
mendapat uang juga. Maka model revenue yang saya pakai adalah advertising mode.
Dengan ini, saya berharap bisa menyemangati konsumen yang sudah saya dan
tokopedia miliki.
“Nama saya Felix, saya dari
Singapura dan saya terkesan dengan kejujuran dan rasa kemanusiaan Anda. Namun,
ada yang ingin saya tanyakan, siapakah yang menjadi kompetitor utama tokopedia
saat ini?”
Yang menjadi pesaing adalah
perusahaan yang bersifat open marketplace seperti bukalapak.com,
elevenia.com, lamido.com dan lainnya merupakan pesaing Tokopedia. Tapi jika
saya ditanya siapakah di antara mereka yang paling saya takuti, saya akan
jawab; tidak tahu. Perusahaan internet saat ini sering kali paranoid. Salah
satu yang bisa membunuh status quo adalah sebuah ketidaktahuan. Ketika
Google memulai perusahaannya, ia tidak serta-merta mnejadi Google seperti
sekarang ini, mereka mulai dengan ketidaktahuan.
Sedangkan Yahoo dan lainnya
mulai dari status quo. Dan sekarang ini kita bisa lihat, Google sudah
besar, dan jika Google mulai untuk mengalahkan Yahoo, Google memulainya dari
ketidaktahuan. Coba lihat Facebook, MySpace atau playstore-playstore di
Indonesia, mereka mulai dari satu jejaring sosial yang kecil di universitas.
Mereka mulai dari suatu ketidaktahuan sebelum menjadi seperti sekarang. All
that I want today is, our competitor is not the one that today, is the future
unknown play.
Sumber : http://startupbisnis.com

No comments:
Post a Comment