Grit adalah passion and perseverance for very long term goal
Grit is having stamina
Grit is sticking with your future, day in, day out, not weeks, not months but years, and working very hard to make that future a reality
Grit is living life like it’s a marathon, not a sprint
Banyak orang percaya, kunci kesuksesan
terletak pada dua fondasi dasar; kecerdasan intelektual dan bakat.
Lalu, bagaimana jika nyatanya tingkat intelenjensi tidak membawamu
mendapatkan posisi tinggi? Atau sebuah bakat tidak kunjung memotivasimu
menghasilkan karya yang berkualitas? Lantas, kamu menemukan seorang anak
yang biasa-biasa saja, tapi berakhir sukses di masa depannya.
Penelitiannya terinspirasi dari murid-muridnya yang dianggap pintar,
tapi pada suatu pengujian matematika, hasilnya tidaklah memuaskan. Itu
berhasil mengejutkannya. Mungkin saja tingkat kesulitan matematika kelas
tujuh SMP itu meningkat, namun ia yakin, murid-muridnya bisa
mengatasinya asalkan belajar keras dan mencoba memahami soal-soal lebih
lama.
“Apapun langkah Anda di masa depan nanti, bukan tingkat IQ atau IPK
sempurna yang menjadikanmu sukses. Tapi sesuatu yang disebut ‘Grit’.
Sebuah tekad yang dilakukan dalam jangka panjang,” ujarnya dalam TED
Talks.
Untuk itu, kesuksesan tidak dijamin dari intelijensi otak, bukan juga
penampilan fisik yang menarik, tapi tumbuh dari kualitas diri yang
berjuang, bersedia pantang menyerah hingga tak pernah mengenal kata usai
dalam meraih impiannya. Kombinasi dari itu semua disebut ‘grit’ atau
tekad.
Grit atau tekad bisa dibangun dengan membentuk pola pikir. Mengapa
bukan bakat dan intelijensi? Karena tidak selamanya bakat dan
intelijensi bisa membuat seseorang memiliki tekad. Bahkan, bisa
sebaliknya.
“Cara terbaik untuk membangun dan memelihara tekad adalah dengan
membentuk pola pikir. Kita perlu mengumpulkan ide-ide terbaik dan
intuisi terkuat yang kita punyai dan mengujinya dengan tantangan. Saat
itu kita tahu, apakah kita cukup tangguh untuk berhasil, bersedia gagal,
menjadi salah dan bangkit lagi bersama apa yang sudah kita pelajari
atas itu semua. Memandang jika kegagalan bukanlah hal yang permanen,
maka itu, ketika gagal, kita harusnya lebih tekun dan gigih,” tambahnya.
Ini mengingatkanmu tentang salah satu kalimat Einstein yang mengatakan
jika dirinya tidaklah pintar, terlebih lagi cerdas, ia hanya bertahan
dalam suatu persoalan dalam jangka waktu yang lama. Jadi, ini bukan
tentang seberapa cerdas kamu menjawab soal-soal di atas kertas demi
nilai dan skor IPK-mu, juga tidak mengenai seberapa hebat bakat yang
tertanam dalam dirimu. Jika itu semua tidak diiringi dengan sebuah
perjuangan tekad penuh komitmen – yang berani gagal dan belajar dari
kesalahan – itu semua akan sia-sia. Karena, kerja keras dan tekad kuat
akan membayar semuanya dengan sebuah kesuksesan.
Sumber : Startupbisnis.com

No comments:
Post a Comment